PKPI

By PKPI on 2016-05-10

Radarpolitik.com, Jakarta – Ketua Umum Srikandi Persatuan dan Keadilan Indonesia (PKPI) Camel Petir menilai, bahwa kejahatan seksual terhadap anak dinilai sebagai kejahatan luar biasa yang perlu mendapat penyelesaian cepat. Untuk itu, Canel meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mempercepat pembahasan rancangan undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual.

Camel mengatakan, salah satu penyebab situasi darurat seksual adalah tidak adanya payung hukum tentang isu kekerasan seksual. “RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sudah lebih dari 2 tahun lalu, tapi belum masuk prioritas pembahasan. Padahal regulasi ini menunjukkan komitmen dan keseriusan pemerintah,” ujar Camel di Jakarta, seperti dikutipHalloapakabar.com Sabtu (7/5).

Menurutnya, Undang-undang saat ini dinilai tidak cukup mengakomodir berbagai bentuk kekerasan seksual, cara penanganan hingga cara memperlakukan korban, misalnya  UU Penghapusan Kekerasan Seksual (RKS) nantinya dapat lebih banyak menjelaskan soal pencegahan.

Kemudian, bagaimana jaminan agar korban tidak disalahkan. Selain itu, UU tersebut diharapkan dapat menjangkau bentuk-bentuk kekerasan seksual yang sangat beragam.

“Komisi VIII DPR tidak boleh ada alasan reses. Pemerintah juga jangan cuma statement, harus konkret, tidak ada alasan untuk tidak segera mengesahkan undang-undang,” pungkasnya.

Pentingnya penyelesaian UU itu, membaca dari kasus kejerasan yang menimpa Yuyun. Bahkan Camel menginginkan ada penegakan hukuman yang berat bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Ia juga mendukung rencana pemerintah untuk memberi hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan, terkait kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yn (14), siswi SMP di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

“Menurut saya, sudah tidak cukup hanya dihukum berat. Tapi rencana beberapa kementerian, baik itu Kementerian Perempuan dan Anak, Kementerian Sosial, bahkan ada usulan Jaksa Agung, agar ada hukuman kebiri, itu saya rasa satu opsi yang harus kita tegakkan,” ujar Camel.

Ia menyatakan bahwa penegakan hukum untuk kasus ini harus maksimal jika tak ingin lebih banyak anak menjadi korban. Terkait adanya usulan hukuman penjara hingga 30 tahun bagi pelaku, Camel menganggapnya sebagai usulan sekaligus dorongan dan kekhawatiran. Menurut dia, hukuman ringan hanya akan membuat lebih banyak korban berjatuhan.

Untuk itu, ia mengimbau kepada para orang tua agar waspada, berhati-hati, dan memastikan telah membina anak-anaknya dengan baik. Politisi PKP Indonesia itu menilai bahwa tragedi yang menimpa Yn sebagai bencana nasional yang harus menjadi peringatan bagi siapa pun.

Seperti diketahui, Yn ditemukan tewas di sebuah jurang di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, pada 4 April 2016. Polisi telah menangkap 12 dari 14 orang yang memperkosa dan membunuh Yn. Tujuh orang di antaranya sudah dituntut 10 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum. Mereka adalah De (18), Da (17), Fs (18), Su (18), Al (17), So (16), dan Ek (16). (roy/rdp)

Sumber : Link

Sumber : http://pkpi.or.id/berita/108/detail

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>